Ya… Saya Golput!

Bentar lagi pemilu (kalo gak salah), untuk 2014 ini diadakan bulan April (kalo gak salah), tepatnya tanggal 9 (kalo gak salah), itu yang legistaltif (kalo gak salah). Sedangkan untuk presiden tanggal 9 juga (kalo gak salah), tapi pada bulan Juni (kalo gak salah). Iya.. itu di negaramu Indonesia…!!! Panitianya tuh KPU.

Mulai berhembus kampanye partai dengan berbagai warna, dari yang merah, hijau, kuning, biru, hitam sampai warna warni gak jelas. Tapi ada yang menghembuskan untuk golput alias gak menggunakan hak pilihnya. Terdapat berbagai motivasi, dari motivasi religius, motivasi hukum, motivasi pemberontak dan apa pun itu.

Dan sekarang saya berencana 1000% untuk golput, udah gak peduli dengan pemilu. Mungkin ini bertentangan dengan ‘fatwa’ MUI atau ulama-ulama yang mengharamkan golput. Ya gak apa-apa, toh itu sebatas ijtihad kontemporer. Dalam prespektif saya, malah dzolim kalau saya tidak golput. Saya gak puas dengan SEMUA, ya.. sekali lagi SEMUA, aktor politik di Indonesia. Ketika saya tetap milih, berarti mereka masih beranggapan bahwa politikus nya masih ‘laku’. Sehingga lamban untuk memperbaiki diri. Gak mau instropeksi diri. Makanya saya golput, dengan kata lain saya memberikan suara “saya tidak suka dengan kinerja politikus“.

Mungkin ada politikus yang baik, tapi kewajiban saya adalah melihat ‘dzohirnya’. Dan secara dzohir juga gak terlihat bagus koq. Ketidak bagusannya berlevel, ada yang simple, intermediate, ada yang ancurrr.

Saya memang tidak tahu masalah politik, makanya gak berani masuk dunia politik. Pertanggungjawabannya berat, yaa… sangat berat. Lebih baik terjun di dunia pendidikan, sosial, ekonomi.

Ada satu lagu yang mewakili perasaan saya kepada para politikus….

Ya… Saya Golput!

6 thoughts on “Ya… Saya Golput!

  1. “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada Keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk rusaknya perusahan nasional dan multinasional”
    -Bertocht Brecht, Penyair Jerman-
    Akankah kita diam dan membisu ketika pesta demokrasi yang menggunakan uang rakyat sebesar 171 Triliun???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s