Kuliah di Perjalanan

Niat awal saya memang pengen sillaturrahim ke rumah beliau berdua, pasangan suami istri. Banyak sekali rasanya pengen ‘ngangsu kawruh‘. Tetapi ternyata taqdir berbicara lain.

Gantinya malah lebih asyik, saya diajak kunjungan ke Ciamis dengan beliau berdua. Kunjungan bulanan untuk lima anak asuh yang nyantri dan tahfidz di pinggiran kota tersebut. Anak-anak yang sangat spesial lahir didunia ini, anak-anak yang sejak lahir sudah mendapat ujian berupa ‘masalah’ pada orang tua biologis mereka.

Kesempatan emas bagi saya untuk belajar sebanyak mungkin. Baik dengan cara ngobrol, atau saya melihat langsung bagaimana mengasuh anak-anak spesial ini. Hal-hal yang sangat sepele, ternyata bisa berarti besar bagi pendidikan anak, apalagi yang spesial ini. Saya pribadi tumbuh dikalangan keluarga yang ‘aman-aman saja’, tidak ada masalah. Sehingga banyak pertanyaan yang saya lontarkan. Dan beberapa poin yang saya bisa share adalah:

  • Jangan memanjakan anak (kandung ataupun asuh), harus dilatih mandiri, bertanggung jawab.
  • Anak yang ‘bermasalah’, harus dibuat nyaman terlebih dahulu, salah satunya mengungkapkan kegundahan hati.
  • Sebelum aqil baligh, anak asuh harus diberitahu kenyataan sebenarnya. Jika dia anak ‘buangan’, memang harus diberitahu (dengan cara yang benar). Agar tidak merasa ditipu ketika sudah dewasa. Melihat kasus Rano Karno.
  • Mendidik anak itu dengan materi Al-Qur`an secara Qur`any.
  • Orang tua harus memberikan maaf kepada anak (meskipun tidak diminta), hal ini adalah kunci turunnya rahmat dan hidayah-Nya kepada anak. Semakin tidak dimaafkan, semakin tertutup pintu hidayah untuk anak.
  • Terdapat fenomena seolah-olah ‘mendidik’ tapi sebenarnya ‘merusak’ sistem pendidikan anak. Seperti memberi hadiah yang berlebihan.
  • Melatih bertanggung jawab makanan yang sudah diambil dipiring, alias harus dihabiskan. Mendidik untuk memakan asupan yang sehat. Jajan yang sehat.
  • Satu hal yang membuat tercengang, ketika anak-anak ini diajak ke area permainan salah satu mall di Ciamis, dan salah satu anak mendapat beberapa biji permen hadiah permaian, langsung aja dibagi ke anak-anak yang lain padahal mereka terpencar seporadis. mak Jleebbb… (tau sendirikan maksud dari fenomena ini??!)

Dan masih banyak yang lain, yang gak sanggup saya ceritakan disini. Cukup disimpan dihati. Karena gak tega mendengar cerita berbagai latar belakang kehidupan anak-anak ini…

Gak bisa membalas apa-apa atas kesempatan ‘ngangsu kawruh‘ ini, cuma bisa mendoakan buat beliau berdua, buat keluarga beliau berdua, buat keturunan beliau berdua, buat kebaikan berbagai pihak. Semoga berkah, istiqomah lillahi ta’ala.

Beliau berdua adalah Pak Badawi dan Ummi Yuli – Rumah Seribu Malaikat.

Adapun nasehat spesial dari Pak Badawi buat saya pribadi adalah “Mas, itu yang tinggal 2% tolong cepet diselesaikan” (baca: selesaikan tesisnya). Hehehehe…

3 thoughts on “Kuliah di Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s