Begitulah rasanya dikejar anjing pemburu …

Gerimis, dingin, berkabut, sepi, tapi itu bukan di rumah lengkap dengan selimut bantal. Hutan pinus nan lebat aku berada. Bisa dibilang jauh dari pemukiman penduduk. Disebut jauh, karena aku memang tersesat, makan pagi cuma sepotong roti, stok air tinggal setengah botol aqua tanggung. Waktu sudah mununjuk jelang siang. Gak tau arah perjalanan.

Bunga cantik di pingir jalan setapak menarik perhatianku, meskipun jalan licin berlumpur. Memang semakin cantik ketika disirami gerimis hutan pinus. Ahh.. lupakan dulu kondisi lelah dan tersesat ini. “klik…”, suara kemera yang siap menyimpan keindahan mungil itu. Berbagai angle aku ambil. Dan pesona itu terpecah ketika terdengar percakapan orang dewasa mendekat. Mendekat semakin mendekat. Segera kusimpan smartphone. “Guukkkk… ” suara anjing juga bersautan.

Bunga

Bunga

Terdengar jelas, banyak anjing juga mendekat. Ku menghadap ke arah suara. Jreng… jreng… jreng… (backsound sinetron wkwkw), seekor anjing pemburu muncul dari belakang semak. Berdiri menatapku seraya menggonggong. Rasanya seperti gladiator menghadapi musuh-musuhnya (halah… lebay). Tak selang muncul dua orang bapak-bapak menggiring beberapa anjing pemburu yang lain. Meskipun terikat, hampir semuanya menggonggong menatapku. Minggir bediri di tanah rerumputan bersemak, menjauhi jalan berlumpur. Kuharap, bapak-bapak tadi lewat dengan lancar, bersama anjingnya.

“Mangga… Pak!”, ku sapa salah satu bapak yang lewat.

“Lagi jalan-jalan Aa’?”, beliau menyapa

“Iya… “, sambil senyum nyegir agak ketakutan, antara tersesat dan digigit anjing pemburu.

Hufftt.. akhirnya mereka lewat juga, dengan anjingnya yang tidak tertarik dengan tulang belulangku. Akhirnya ku teruskan perjalanan. Jalan berkelok-kelok, licin menurun menanjak. Tidak lama kemudian terlihat bayangan seorang duduk di gubuk kecil. Gak jelas memang, karena kabut menutupi setiap ruang di hutan. Semakin jelas, semakin jelas, aku mendekat … Tak kusangka dalam jarak dekat, berdiri dua anjing ukuran M (medium). Kusapa si pemilik anjing. Dia membalas dengan ramah.

Tapi anjingnya yang tidak ramah, secepat kilat lari mendekatiku, sambil menggonggong bersemangat. Seolah mengejar pencuri yang kepergok, atau bisa jadi seperti melihat tulang lezat yang berjalan lewat. Dag dig dug derrrrr… jantung berdetak semakin cepat, antara panik dan stay calm. “Tenang.. tenang, harus tetep jalan, jangan sampai lari. Kalau lari malah di kejar. Tapi kalau anjing ini sampai menggigit… berarti aku harus battle, DOG FIGHT” dalam batinku bergumam.

Dalam kepanikan itu, terdengar suara pemilik anjing mencegah anak buahnya menggangu. Memang sih, kejadiannya tidak lama. Tinggal beberapa jengkal lagi, anjing itu bisa menggigitku. Untungnya gak terjadi apa-apa, karena anjing kembali ke pemiliknya. Ku meneruskan perjalanan berakting untuk calm. Meskipun sebenarnya kaki dan tangan bergemetar ketakutan. Tenaga dalam fisik tinggal sedikit, ditambah dikejar anjing pemburu, udahlah…. jadi low battery deh… padahal belum jelas bisa pulang ke rumah atau tidak. -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s