Memahami bahasa peraturan

Dalam tesis ini dibahas sub proses pengambilan ‘rule’ dari berbagai dokumen sumber. Untuk sekarang saya mempelajari dan mengambil ‘rule’ dari PSAK 101 – 107, alias standar akuntansi untuk transaksi syariah.

It’s oke peraturanan pakai bahasa Indonesia, tapi tetap harus hati-hati karena terkait domain spesifik yaitu Akutansi, syariah pula. Wal hasil, mengambil rule dari satu standar aja (sekitar 10an halaman) bisa lamaaaaaa banget. Hati-hati plus takut kalu salah faham.

Contohnya adalah PSAK 104 untuk transaksi Istishna’ bagian 17

Pendapatan istishna’ diakui dengan menggunakan metode peersentase penyelesaian atau metode akad selesai. Akad adalah selesai jika proses pembuatan barang pesanan slesai dan diserahkan kepada pembeli

Apa coba maksudnya gitu, seolah-olah itu merupakan penjelasan definitif dari AKAD. Padahal maksudnya adalah menjelaskan tahap proses transaksi. Tapi kata-kata yang diambil malah ambigu (menurut saya). Apa mereka (para akuntan) salah ketik atau salah pilih kosa kata?!. Kalau akad dianggap selesai, menurut saya juga kurang benar, karena bisa jadi barang selesai, tapi belum dibayar oleh pembeli.

Jadi kebayang, rapat di legislatif gitu, eyel-eyelan membuat peraturan, belum lagi disadap, belum lagi kena ‘konspirasi’, belum lagi disabotase. Untungnya saya bukan mahasiswa hukum.😛

mengambil rule dari buku aja sulit, apalagi mengambil maksud dari hatimu… kwkwkwkwk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s