Aku (dikira) Sang Pemberani

“Tenang aja, nanti malam gak bakal ada renungan malam” ucap seorang kawan peserta KML (Kursus Mahir Lanjut) tahun 2003. “Karena gak mungkin peserta segini banyak dengan panitia segitu dikitnya. Toh mereka teman kita sendiri” lanjutnya sambil tersenyum.

Malam pun tiba, para peserta dah kecapean menikmati sesi terakhir KML. Begitu pula aku. Sengaja ‘mapan’ (ambil posisi) ditengah-tengah tenda agar tidak terasa dingin tertutupi kehangatan body peserta lain.

Entah gak tau jam berapa, terdengar percakapan gak jelas dibarengi salah satu peserta dituntun keluar dari tenda. “Eh.. itu aja, itu aja, ganti.” ucap seorang yang berdiri didepan tenda. “Hmm… curiga nih” batinku. “weikss…” dengan setengah sadar tanganku ditarik dan aku ngikut aja. Bersama rasa capek, setengah sadar, berjalan lemah pontai menuju gerombolan peserta lain. Mendengar arahan dari Kakak Pembina. Cuma satu yang aku denger “ikuti lilin”.

Akhirnya jalan juga sendirian, jarak antar peserta sekitar 5 menit. “Ah terserah, apapun yang terjadi” batinku, sambil menikmati setengah tidur. Lamaaa.. berjalan gak nemu-nemu lilin. “Gak apa2, yang jelas masih disekitar Ponorogo juga, gak mungkin hilang diperantauan”.

Akhirnya nemu lilin, masuk perkebunan, masuk sawah, masuk sungai, masuk tanah lapang, itu pun masih setengah sadar. Alias gak faham kanan kiri ada apa aja. Dan tiba-tiba “HUwaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!” suara teriakan 5 orang panitia membentak ku di depan wajah. Sengaja mengagetkan setiap peserta yang lewat. Dan aku pun, krik krik krik gak ada respon alias diem, gak kaget, gak teriak, gak lari. Para peneriak itu pun kembali sembunyi.

Aku meneruskan jalan lamaaaaa… banget, tapi endingnya di sebuah musholla. Para peserta sholat subuh disitu, kemudian kembali ke buper. Pagi sebelum acara selanjutnya, aku dikasih tau seorang panitia “Dari sekian banyak orang yang dibentak, cuma dua orang yang gak takut. Kamu sama Mirza. Wah mantab lah wong Ponorogo iki”, dan aku cuma bisa membalas dengan senyum nyengir. Mirza, kawan satu kelas di Gontor, bawaannya canda terus, gak bisa serius. Kalo gitu, hantu mana yang mau mengganggu dia?!!

Dan sebelum pulang, kita tracking singkat. Eh ternyata rute tadi malam horor juga. Dari sawah gak jelas konturnya, sungai dengan DAM gede jauh dari perumahan, dan tanah lapang yang ternyata itu adalah makam tua. Siang aja terasa merinding. Tapi kembali ke diriku tadi malam, bukan karena berani, tapi memang setangah sadar, ngantuk dan capek. Istilahnya panca indera yang gak berfungsi. Kalo ada hantu betulan mungkin juga gak sadar. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s