Menikah

Lima abad yang lalu, Muhammad Al-Fatih berpidato kepada pasukannya

“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran.”

Al-Fatih tahu betul bahwa peperangan tersebut merupakan rangkaian ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Jika pasukan melanggar syariat, maka bisa jadi kalah. Kalaulah menang, kemungkinan tidak akan membawa berkah. Yaitu kemenangan yang bisa menjadikan ummat Islam jadi sombong dan kufur. Sehari sebelum penyerangan terakhir, Al-Fatih menyerukan agar semua pasukan berpuasa. Para ulama disebar di antara ratusan ribu pasukannya, memberikan taujih aqidah, syari’at dan kelurusan niat.

Jelas… kita bukan Al-Fatih, jelas… dosa kita tak terhitung, jelas… kualitas iman masih rapuh, tapi tetap wajib untuk berusaha menjalankan syariat dan menjauhi larangan. Begitu pula dalam hal pernikahan. Ketika sebuah kehalalan dicari, ketika keberkahan menjadi sebuah obsesi, maka syarat mutlak adalah obyeknya yang halal dan cara mendapatkannya pun harus halal. Mungkin dengan bahasa saya, “Sesholihahnya istri, mungkin keberkahannya akan hilang ketika kita menjemput dengan cara yang tidak sholih”.

Dan salah satu cara yang sholih adalah, kita menjalankan ibadah menikah dengan tidak merusak ibadah yang lain. Sebagai contoh, bisa jadi menikah tetapi tidak berbakti kepada orang tua. Kita tidak mematuhi perintah-perintah orang tua, tentunya selama perintah tersebut tidak untuk bermaksiat. Meskipun saya sebagai laki-laki tidak wajib meminta izin ke pada orang tua dalam pernikahan, tapi tetap saya adalah seorang anak dari sepasang orang tua.

Sudah banyak mendengar kawan-kawan yang hubungan dengan orang tua mereka jadi rusak, karena ‘negosiasi’ menyongsong pernikahan (Na’udzubillah). Kalo kadar kerusakan hubungan sudah masuk durhaka, berarti itu adalah salah satu dosa besar. Efeknya mungkin bisa hilangnya keberkahan dalam pernikahan.

Pada sisi lain, bukan berarti sebagai anak (laki-laki ataupun perempun) harus diam pasrah. Tetap harus ada ikhtiar manusiawi agar orang tua ridlo dengan pernikahan anaknya. ‘Negosiasi’ dengan orang tua bisa berupa hal calon pasangan, bisa masalah waktu, bisa juga hal-hal yang lain.

Saya kira tulisan ini akan mendatangkan multi-tafsir. Cuma bisa mendo’akan semoga tulisan ini mendatangkan kebaikan kepada siapa saja. Semoga keberkahan selalu tercurah ke setiap keluarga.

Dan menikah itu pun juga untuk menjalankan syariat, dan bisa menjadi ‘wasilah’ menjauhi laranganNya.

Allahu A’lam🙂

6 thoughts on “Menikah

  1. Menikah adalah kebaikan, maka awali lah kebaikan itu dengan kebaikan. karena jika tak di awali dengan kebaikan maka hal itu bisa mencabut keberkahan pernikahan. ..
    apa itu kebaikan yaitu dengan proses-proses pernikahan yang baik…
    ..just my opinion..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s