“Peminta” yang kehabisan bekal di perjalanan

Untuk tulisan kali ini butuh banyak ta’awudz, na’udzubillahi mina-sh-shaithoni-r-rajiim. Entah karena godaan syaiton atau mungkin dikuasai oleh nafsu diri.

Bismillahirrahmanirrahim…

Pernah bertemu dengan orang yang meminta uang, karena orang tersebut kehabisan bekal diperjalanan?

Pengalaman pertama saya adalah seorang (maaf) pengamen jathilan di bangjo yang meminta kepada setiap pengendara (termasuk saya pengendara sepeda onta butut) ketika menunggu lampu traffic hijau. Dia berkata:

“Mas minta uang buat kami, mau pulang ke kota X tapi gak punya bekal” meminta dengan wajah sayup tertutupi make up jathil. Dan saya tolak dengan gelengan kepala, tak berucap karena wajahku tertutup rapat oleh slayer.

Pengalaman kedua, seorang laki-laki (+35thn) memanggil-manggil di pinggir jalan ketika saya naek sepeda. Hampir sama dengan pengalaman pertama, meskipun minta bekal ke kota Y. Saya kasih kira-kira setengah dari biaya perjalanan ke kota tersebut. Itung-itung memang uang yang ada di saku cuma segitu.

Pengalaman ketiga, seorang ibu paruh baya yang turun dari bis kota. Menghampiriku yang lagi berdiri di depan kantor Rumah Zakat. Serupa dengan pertama dan kedua, meskipun ibu tersebut mengaku rumahnya sekitar 6 km dari kami bertemu. Setelah saya kasih sedikit uang, akhirnya saya beranikan diri untuk menanyakan detail rumah dan keluarganya. Mungkin takut atau gimana, akhirnya ibu itu tergesa-gesa menyeberang jalan dan langsung naik bis kota yang berlawanan arah dengan bis pertama. Sebenarnya, saya sudah dikasih “kode” oleh warga sekitar, bahwa ibu tersebut tidak usah dikasih, karena bohong. Hufftt.. mungkin ibu paruh baya tersebut sudah sering minta ke orang sekitar kantor.

Pengalaman keempat, dalam perjalanan saya mampir sebuah masjid untuk sholat dzuhur. Setelah sholat kemudian duduk-duduk istirahat di serambi. Seorang wanita muda, menghampiri saya setelah dia ngobrol lama dengan ta’mir masjid. Dan bla-bla-bla seperti pengalaman sebelumnya. Bahkan wanita tersebut menunjukkan KTP kota Z. Saya tanya berapa biaya pulang. Dan… glengggg… terdengar sebuah nominal dua kali lipat dari biaya sebenarnya jika melakukan perjalanan ke kota Z tersebut. Saya kasih sedikit uang, sambil melirik tangan wanita tersebut. Hmm… ternyata terlihat bekas sayatan-sayatan panjang, yup… pengguna narkoba. Mungkin karena dia tau gelagat saya, akhirnya dia mengaku memang baru keluar dari penjara karena narkoba. Dalam hati, saya gak mempermasalahkan pengguna narkoba atau tidak, tapi kenapa harus dua kali lipat biaya perjalanan?!

Pengalaman kelima, ketika saya berjalan menyebrangi jalan bersama seorang ibu paruh baya. Berjalan sambil ngobrol dengan saya, yang endingya minta uang karena dia habis keluar dari rumah sakit sehat untuk berobat sakit paru-paru. Kali ini tidak bisa mengasih uang.

Pengalaman keenam, pulang dari masjid bersama seorang teman. Bertemu dengan dua ibu-ibu menggendong anak-anak mereka. Serupa juga dengan pengalaman pertama. Kali ini kami tidak memberi apa-apa.

Pengalaman kesekian kalinya, pulang dari kampus dengan angkot. Setelah turun dari angkot, ternyata saya dibuntuti seorang ibu dan anak kecil minta nyebrang jalan bareng. Setelah nyebrang ibu tadi ngomonggggggggggg macem-macem (meskipun durasinya kurang dari satu menit). Endingnya minta uang karena dompetnya ketinggalan di jalan F (4 km dari kami bertemu). Tangan dah mau membuka saku, ibu tersebut bilang “Mas, pinjam uang buat pulang ke kota A”. Kalimat tersebut “kontras” dengan dandanan pakaian ibu dan anaknya. Akhirnya ku tolak, karena merasa ada kejanggalan (na’udzubillah). “Ya udah seberapa aja” sahut ibu tersebut. Dan ku jawab dengan gelengan kepala.

Dan pengalaman-pengalaman lain, yang saya gak bisa ngasih uang.

Sebenarnya ketika menghadapi hal semacam ini, saya jadi pusing. Jangan-jangan saya termasuk yang mendustakan agama?!!. Meskipun secara dzohir kasat mata, memang banyak kejanggalan dengan ‘mereka’. Saya sadar diri, bukan termasuk yang bisa mendawamkan sedekah, dan sekalinya pun cuma sedikit. Dan lebih percaya ke kotak infaq atau lembaga zakat.

Kalo difikir, sedekah memang lebih optimal di Lembaga Zakat, karena ada yang (berusaha) mengecek ketepatan penyaluran. Tapi perlu diingat, sedekah yang lebih afdol adalah untuk orang terdekat terlebih dahulu. Allahu A’lam.

Jadi, pernah bertemu dengan hal serupa?
Apakah fenomena ini terpengaruh acara-acara di TV?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s