Pasrah Dalam Doa

“Trilittt” suara sms dari hp jadulku pun memecah lamunan di waktu dhuha. “Pak, tolong dirikan satu tenda peleton di pengungsian Girikerto. Pokoknya habis sholat jum’at harus sudah ada, tim dari PGN pusat akan meninjau. Jzk” isi pesan singkat yang membuatku lemas. Memang waktu itu kami dari relawan Rumah Zakat Jogja mendapat amanah untuk membantu di pengungsian Wokerto. Merapi lagi ‘batuk-batuk’ pada akhir 2010. Personel yang dilapangan cuma 3 orang, karena yang lain mengambil perbekalan di kantor.

Berapa besar tenda peleton kapasitas 30an orang?! gak mungkin didirikan cuma 3 orang. Tiang penyangga utama aja 4 batang, tiang pendamping pun ada puluhan. That’s mission impossible. Padahal yang dibutuhkan minimal 8 orang. Itu yang kami rasakan bertiga. Tapi setelah musyawarah sebentar, kami putuskan satu orang jaga di pengungsian Wonokerto. Sedangkan aku dan mas Sakijo -relawan yang selalu punya semangat-, menuju ke Girikerto yang jaraknya sekitar 1 km, berencana mendirikan tenda peleton.

“Ah, gak mungkin mas, cuma kita berdua mendirikan tenda peleton”, celetuk mas Sakijo kepadaku. “Bismillah, semoga ada kebaikan di sana”, sahutku tegas penuh percaya diri, meskipun hatiku juga lemes. Karena tidak ada kendaraan yang bisa mengangkut tenda peleton, akhirnya ambulans elf bisa menjadi alternatif. Aku kemudikan melewati aspal mulus yang tertutupi debu Merapi.

Sepanjang jalan aku cuma pasrah dan berdoa. “Ya Allah, aku pasrah dengan kondisi ini. Jadikanlah aktifitas kami, aktifitas yang mendatangkan kebaikan, yang mendatangkan ridlo-Mu. Permudahkanlah urusan kami. Jagalah niat kami”, terus ku ulang-ulang dalam batin. Sembari melihat mas Sakijo duduk diam di sampingku.

Tak lama kemudian, kami sampai di area pengungsian Girikerto. Ramai, bahkan sangat ramai. Bingung mau parkir dimana mobil body besar ini. Tengok sana sini, yang terlihat cuma para relawan yang sibuk melayani pengungsi. TNI dan Polisi pun menjaga di setiap sisi. Akhirnya ambulans berlabuh di halaman SD yang tak jauh dari area pengungsian.

Berdiskusi dengan koordinator pengungsian Girikerto, kemudian kami diperbolehkan mendirikan tenda peleton. Tapi di lapangan sepakbola yang jaraknya sekitar hampir 100 meter dari pusat pengungsian. “Waduh, jauh juga. Tapi gak apa-apalah, karena memang tidak ada area yang lain” bisik dalam hati. Menuju ke lokasi, eh… ternyata sudah ada tenda peleton dari TNI AD. Alhamdulillah, berarti tidak akan sendirian di lapangan ini.

60 menit menuju adzan Jum’at. Masih bingung berdua, di pinggir lapangan. Sambil melihat ke langit sisi utara, semburan debu merapi sangat terlihat jelas. Gak mungkin juga, minta bantuan dari relawan atau bapak-bapak tentara. Mereka sudah disibukkan dengan aktifitas masing-masing. “Ya, udahlah mas, kita makan roti yang ada aja. Toh pagi ini kita belum sarapan” ajak mas Sakijo.

10 menit menuju adzan Jum’at. Menatapi lipatan tenda peleton yang teronggok di ambulans. Dan… “Kringggg…. ” bunyi calling hp.

“Mas Arif, lagi dimana?”
“Saya lagi Girikerto, maaf ni siapa?” jawabku
“Saya Agus, relawan Solo. Hari ini saya dan teman-teman mau bantu disini, saya sudah di depan Posko pengungsian Girikerto nih” sahut mas Agus.
“Oke, sip, temannya ada berapa?” lanjutku
“Ada 6 orang mas”
“Baik, kita ketemuan di masjid samping posko, sekalian sholat Jum’at”, jawabku penuh kegirangan. Puji syukur alhamdulillah yang telah memberikan solusi. Ketemu dengan Mas Agus dan teman-teman sebelum adzan Jum’at, dan sholat kali ini akhirnya penuh ketenangan.

Akhirnya kami bisa mendirikan tenda peleton, meskipun yang berpengalaman mendirikan cuma dua orang dan sisanya belum pernah. Briefing dan simulasi miniatur tenda peleton sangat membantu pendirian tenda. Alhamdulillah…

Tenda Peleton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s