Itu Karena Doa Ibumu

Andi, anak tinggi kurus itu sekarang sudah masuk pesantren. Meskipun jadi santri kalong, tapi dia sangat menikmati. Pesantren Madani namanya. Ayahnya seorang guru tsanawiyah dan ibunya seorang penjual tempe, pasti merestui dengan keinginan anak bungsunya itu. Tinggal dikampung, memang membuat kehidupan mereka lebih nyaman dan sederhana. Meskipun secara materi tidak melimpah, tetapi setiap kebutuhan pokok bisa terpenuhi.

Ibunya yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, selalu mengingatkan kepada semua anaknya agar selalu sederhana dan bersyukur. Tak ayal, jika setiap makan bersama, ibunya selalu marah jika Andi tidak menghabiskan makanan. Dosa besar, jika ada makan terbuang alias mubadzir.

“Nak, jika diberi rizki makanan jangan pilih-pilih seenakmu dan jangan sampai para setan tertawa melihatmu melakukan tabdzir.” nasehat ibu yang selalu diulang-ulang. “Tuh… denger suara tok-tok-tok tukang bakso yang susah payah mencari nafkah, apalagi hujan deres gini. Apa kamu gak inget keluarga mereka yang menunggu dirumah, belum tentu bisa makan malam. Sedangkan kita, bisa kenyang karena Gusti Allah”, lanjut ibu yang membuat mengkeret semua anaknya. “Ya bu”, jawab singkat Andi sambil menahan wajah trenyuhnya.

Ya… namanya juga anak-anak, meskipun tidak bisa dibilang durhaka, tapi sifat nakal dan mbalelo kepada orang tua pasti ada. Hal itu berefek pada nila rapor belajarnya tidak bagus-bagus amat. Selain itu Andi memang suka banget dengan dunia pramuka, alias lebih suka di lapangan ketimbang di kelas.

Ngomong-ngomong pramuka, Pesantren Madani sangat memperhatikan ekstrakulikuler ini. Para pengasuh pesantern tahu betul, bahwa pramuka memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan karakter para santri. Oleh karena itu berbagai event kompetisi diadakan untuk memakmurkan kreatifitas. Dari tingkat antar santri sampai tingkat antar pesantren se Indonesia. Bahkan jika ada undangan untuk jambore tingkat internasional pun akan diikuti. Tentunya untuk level internasional, biaya ditanggung santri.

Berawal dari adanya Jambore Nasional 2001 Batu Raden, Andi pun semakin mupeng dengan event nasional tersebut. Berfikir bolak-balik, tapi akhirnya gak tega untuk bilang ke orang tuanya. Takut membebani. Ternyata godaan lain datang, yaitu adanya event Jambore Dunia di Thailand tahun 2002. Tentunya event ini lebih butuh biaya yang banyak, sekitar 9 juta setiap santri yang ingin ikut.

Karena saking mupeng untuk ikut Jambore apalagi internasional, akhirnya Andi pun memberanikan diri ngobrol dengan ibunya.

“Bu, gimana kalo Andi ikut Jambore Dunia. Jujur saja, Andi memang ingin ikut acara tersebut, tentunya banyak pengalaman yang akan didapat, InsyaAllah” tanya Andi dengan bahasa lembut.

“Nak, Ayah Ibumu tidak bisa membiayai untuk acara seperti itu. Tahu sendiri kan, Aya Ibumu kerjanya apa. Tapi InsyaAllah, ibu do’akan, tidak hanya untuk kamu, tapi keluarga kita bisa keluar negeri. Sehingga fikiran kita tidak terkekang di kampung aja. Mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman” jawab ibunya, tanpa bertanya berapa biaya yang dibutuhkan, karena pasti mahal.

Wajah sedih memang tidak tampak di raut muka Andi, karena dia sudah menduga jawaban ibunya seperti itu. Dalam hatinya dia sangat bersyukur, karena orang tuanya selalu mengajak tuk mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Meskipun di kampung, tapi jangan punya fikiran yang sempit. Dunia adalah landang ibadah, bukan cuma Indonesia yang jadi ladang dakwah. Alhamdulillah.🙂

Beberapa bulan sudah terlewati, semuanya tinggal harapan yang terpendam. Selalu iri ketika mendengar cerita kawan-kawannya yang pulang dari Jambore Dunia, berbagai pengalaman menjadi kisah hidup mereka. Bertemu dengan berbagai bangsa, memang asyik. Berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, dan kesemuanya itu sama dihadapan Allah. Kecuali takwanya. Andi yang tenggelam dalam harapan, sedangkan ibunya tenggelam dalam doa munajat untuk kebaikan keluarga. Sungguh, orang tua yang bervisi akhirat.

Kesabaran, tawakkal, doa, usaha dan niat mendapat ridlo ilahi selalu ditanamkan. Wal hasil, rizki Allah memang tidak disangka-sangka. Dengan berbagai fase penilaian para ustadz, Andi dan lima kawannya akhirnya menjadi utusan pertukaran pemuda. Kemana?

Ke Inggris dan Irlandia. Wallahu yarzuqu man yasyaa` bi ghoiri hisaab (Allah memberi rizki kepada siapa saja tanpa disangka-sangka). Biaya perjalanan semua ditanggung sebuah keluarga dari Inggris. Keluarga ini baru saja kehilangan salah satu anaknya karena Bom Bali. Bukan benci dengan Islam, tapi malah ingin hidup bareng dengan para pemuda muslim pesantren. Keluarga ini yakin, Islam tidak mengajarkan kekerasan. Program ini diikuti pemuda dari Indonesia, Pakistan dan Inggris. Dikemas dalam pelatihan pelayaran selama 8 hari.

Singkat cerita Andi bersama kawan-kawannya bisa belajar tentang kehidupan, budaya, dan science di Inggris dan Irlandia. Photo bareng di depan Buckingham Palace, nongkrong di sungai Themes, naik Eye London, berlayar di pinggiran samudera Atlantik. Bahkan, santri dari kampung itu sangat suka berpose di area Piccadily Circus dan Grosvenor Hotel. Dua lokasi yang sering disebut-sebut dalam pelajaran Reading kurikulum Pesantren Madani.

Terapung-apung di pinggiran samudera menikmati indahnya bintang malam, lampu mercusuar dan lampu navigasi kapal-kapal besar lintas benua. Penggalan kisah hidup yang tak akan terlupakan. Tapi tidak menjadikan Andi lupa akan nasehat orang tua “Nak, jangan lupa sholat dimanapun berada”. Sholat berjama’ah di dek kapal, dilihatin para pemuda eropa pun sudah biasa.

Dingle kota lumba-lumba juga disingahi, Waterford kota penghasil kaca kristral bisa menambah wawasan para santri. Stavros S Niarchos, nama kapal layar yang dinaiki itu akhirnya berlabuh terakhir di Portsmouth selatan London. Kapal layar serupa dengan KRI Dewa Rutji, langsung menjadi background wawancara keluarga sponsor dengan BBC Eropa secara Live.

Subhanallah, doa ibu memang luar biasa. Tidak hanya Andi yang bisa mengambil ibroh diluar negeri tapi kakak dan ayahnya bisa menginjakkan kaki di Jepang selama 10 hari Ramadan. Karena ayah Andi diminta mengisi kajian di KBRI Jepang. Bahkan beberapa beberapa bulan kemudian ayah dan ibu Andi mendapat hadiah umroh plus jalan-jalan ke Mesir dari seseorang. Hal ini juga dimanfaatkan untuk menjenguk keponakan yang belajar di Al-Azhar Kairo. Sebuah rizki yang tidak disangka-sangka. Semuanya di tahun 2003.

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك.

Stavros S Niarchos, kapal layar yang dinaikin Andi dan kawan-kawan dipinggiran samudera Atlantik.

Stavros S Niarchos, kapal layar yang dinaikin Andi dan kawan-kawan di pinggiran samudera Atlantik.

Bandung, 2013.
Sebuah fiksi yang diinspirasi dari kisah nyata.

One thought on “Itu Karena Doa Ibumu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s