Dek, cintaku selebar jilbabmu

Sunset di Gili Trawangan, Lombok, memang terlihat lebih cantik ketimbang di pantai Kuta. Merah langit, riuh burung, percikan ombak, dan tentunya para nelayan yang berangkat melaut merupakan orkestra kehidupan yang harmoni. Apalagi tubuh ini capek setelah seharian diving dan snorkeling di area Blue Coral. Diselingi sruputan kopi jahe, dan candaan kawan-kawan kantor yang bersama menikmati liburan, menjadikan sore itu begitu renyah.

Tapi sayang, Zakiah, wanita Bandung berwajah teduh itu tidak berada di sampingku menikmati kerenyahan sore ini. Anak terakhir dari 5 bersaudara, yang kesukaannya pencilakan layaknya anak laki-laki. Maklumlah, empat kakaknya semua laki-laki. Semua tingkah polahnya mengikuti kakak-kakaknya. Bahkan yang membuat heboh keluarga dan tetangganya, adalah keputusan Zakiah untuk kuliah di Teknik Mesin ITB. Haduh.. pasti orang tuanya kebingungan. Jurusan yang mayoritas laki-laki itu menjadi penggalan cerita kehidupan Zakiah.

Empat tahun kuliah memang sangat terasa singkat, tapi selama itu pula nasehat dari ibunya selalu diabaikan. Nasehat yang berisi agar Zakiah mengubah tingkah lakunya menjadi perempuan yang lembut, tidak pencilakan, ramah dan tentunya menjadi muslimah sejati. Meskipun sejak kecil Zakiah dididik menggunakan jilbab, tapi jilbab ‘bunuh diri’ yang selalu dipakai. Istilah yang selalu disinggung ibunya, karena jilbab itu melilit kepala dan leher bak mumi yang akan dikubur. Jilbab yang tidak menjulur sampai dada bahkan pinggang.

Ayahnya juga selalu sabar untuk mendidik Zakiah. Dari mengaji baca Qur`an sampai masalah kontemporer, selalu menjadi pembahasan diskusi antara ayah dan anak. Secara lisan, Zakiah memang sangat pandai, tapi itu tidak menjadikan puas orang tuanya karena amal dan ghiroh beragama belum terlihat pada anak bungsunya. Zakiah tahu sholat shubuh itu wajib, tapi dia sering molor tembus bangunnya sampai dhuha. Zakiah tahu bahwa gossip itu jenis dari ghibah, tapi tetep aja menikmati dengan kawan-kawannya. Memang benar kata orang-orang, orang berilmu belum tentu beramal. Menjadi anak seorang ulama tidak menjadi jaminan bagi Zakiah berperilaku muslim secara kaaffah.

Hari berganti hari, tanggal wisuda sudah didepan mata. H-1 menjadi hari yang sangat bersejarah bagi Zakiah. Antara gembira karena lulus kuliah dan sedih karena meninggalkan kawan-kawan seperjuangannya. Pintu gerbang menuju lautan kehidupan sebenarnya, yaitu kerja, kantor, kehidupan mandiri. Tidak ada lagi tugas kuliah, tidak ada lagi sistem SKS.

H-1 bertepatan hari jum’at, seperti biasa orang tua Zakiah pergi ke PUSDAI untuk mengikuti kajian yang ada. Tapi tidak seperti jum’at-jum’at sebelumnya, kali ini orang tuanya belum pulang padahal adzan Jum’at sudah berkumandang. Semakin resah ketika Zakiah tidak bisa menghubungi HP kedua orang tuanya. Meskipun dia anak yang suka mbalelo, tapi cinta kepada orang tua sudah mendarah daging luarbiasa.

Hanya berita duka yang diterima sebelum Asyar, bapak Zakiah dirawat di ICU R.S Hasan Sadiqin Bandung. Sedangkan ibunya terbujur kaku di ruang jenazah. Musibah menimpa mereka ketika mobil ditabrak truk BBM sampai keluar jalur jembatan layang Surapati setelah meninggalkan PUSDAI.

Renungan mendalam bercampur memori indah dengan mereka berdua, Zakiah terus bermuhasabah. Terus mendoakan kedua orang tua mereka. Tinggal bapak yang bisa mendampingi kehidupan Zakiah selanjutnya. Rasa kangen kepada ibu, menjadikan Zakiah lebih dewasa. Semakin sering mengingat kapan manusia ini dipanggil ilahi. Dari kehilangan itulah, karakter Zakiah berubah. Tidak lagi egois belajar dunia saja, tapi juga sedikit-demi sedikit mengamalkan ajaran agama Islam secara Kaffah.

Bapak Zakiah sadar betul, ingin segera ‘mengamankan’ anak tercantikanya tersebut dengan cara menikahkannya. Dengan meminta tolong seorang ustadz untuk mencarikan pemuda yang sekiranya cocok buat Zakiah. Tak selang beberapa lama, akhirnya menikahlah Zakiah dengan seorang pemuda. Entah alasan apa bapak Zakiah menerima pemuda yang biasa-biasa saja itu. Hartanya biasa saja, wajahnya biasa saja, dari keluarga biasa, dan agamanya pun masih kalah dengan pemuda yang lain. Dan pemuda itu adalah aku, lulusan informatika dari kampus swasta yang tidak begitu terkenal. Ketika menikah pun aku belum punya pekerjaan, cuma beberapa rupiah tabungan untuk menyambung hidup menjadi pengantin baru.

Tak disangka, seminggu setelah akad nikah Allah azza wa jalla menakdirkan ku bisa melanjutkan kuliah Magister Computer Science di National Taiwan University. Dengan beasiswa full yang aku apply tiga bulan sebelumnya. Mimpi itu datang, bahkan bisa membawa bidadariku sekalian tuk jadi penghibur diwaktu penat belajar.

Masih lekat diingatanku, Zakiah pertama kutemui masih menggunakan jilbab semi ‘bunuh diri’. Tapi lama kelamaan dia memilih menggunakan jilbab yang lebih lebar, lebih lebar dan lebih lebar. Meskipun awalnya dengan berat hati, tapi pilihannya itu memang untuk mencari ridlo ilahi. Jilbab ‘hanya’ salah satu efek samping dari kedewasaan spiritual seseorang. Masih banyak efek samping yang lain yang tidak terlihat secara kasat mata. Zakiah juga pernah bilang, dia tidak ingin rahmat Allah jadi seret gara-gara jilbab yang tidak sempurna. “Dek, cintaku selebar jilbabmu” sering ku ucap untuknya yang disahut dengan kecupan manis di keningnya.

Aku sebagai suaminya, gak bisa memberikan balasan apa-apa atas kepatuhan dan pengorbanan Zakiah sebagai istri. Bagiku dia merupakan penutup pintu godaan yang bertebaraan di setiap jengkal tanah perantauan. Hanya Allah lah yang bisa membalas semua ibadahmu.

Suara adzan maghrib membangunkanku dari lamunan panjang di pinggir pantai Gili Trawangan. Lamunan yang mengingatkanku dua tahun yang lalu, bahkan Zakiah tidak bisa mendampingiku saat wisuda S2. Karena Allah lebih mencintainya. Sang kholiq memanggil Zakiah tepat pada sujud terakhir sholat Dhuhanya. Tanpa sebab, tanpa peringatan, tanpa tanda apapun ‘surat cinta dariNya’ pun datang.

Allahummaj’al qobroha roudhotan min riyadil-jinaan

"Dek, cintaku selebar jilbabmu"

“Dek, cintaku selebar jilbabmu”

Bandung, 20 April 2013

*image: unknown source.

13 thoughts on “Dek, cintaku selebar jilbabmu

  1. #speechless, kesannya tu ceritane “lucu” dengan judulnya, ternyata #Sad,
    moga mendapatkan tempat yang terbaik mbak Zakiah,
    keknya ceritanya bagus dikirim di cerpen fiksi dah😀,,.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s