The Debate of Tukang Cukur

Ziiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg…. suara mesin cukur berjalan-jalan disekitar kepalaku. Rambut pun berjatuhan. Didampingi asap rokok tukang cukur, yang aku terpaksa menikmatinya, aku pasrah dengan style potongan rambut sedikit demi sedikit terlihat lebih rapi. Semoga aja tidak ada sentuhan style boyband atau punk, yang pernah aku alami sebulan sebelumnya. Hedewwhhh… bandung gitu loh… sesuai dengan konsumennya.

Hampir selesai, si tukang cukur bertanya “Aa, dah nikah??”. Kujawab dengan santai “Belum atuh”. “Hhhmmmm… sudah nikah!”, sahut tukang cukur sambil tersenyum.

Sambil menahan tawa kujawab “Belum, kang”. Dengan tidak berfikir panjang dia menjawab “Akang udah nikah tuh, jangan bohong”. Dalam hati kubilang “Sak Karepmu!! hahahahh…”.

Diam bebeerapa menit, ku tanya lagi “Emang Aa bilang saya sudah nikah, tahu dari mana ??”. “Tuh.. dari jenggotnya”, jawab tukang cukur. #wadeziiiingggg….

2 thoughts on “The Debate of Tukang Cukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s