Manajemen Panik

Skripsi dah beres, Yudisium pun dah terlewati, tinggal memanfaatkan waktu sambil menunggu fase kehidupan selanjutnya. Klunting… bunyi sms terdengar, “Diharap berkumpul semua relawan di kantor siang ini”. Wesss… ambil sepeda langsung otw ke kantor RZ Jogjakarta. Satu dua jam clingak clinguk bersama dengan relawan lain, nunggu ‘jatah’ ibadah yaitu antara aksi di Gunungkidul atau ke pengungsian Merapi.

Ya waktu itu memang Merapi lagi ‘batuk-batuk’, akhir 2010. SDM relawan terpecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan aktifitas yang diterima. Karena saya ‘rakyat kecil’, ya ngikut aja apa instruksi dari Koordinator Relawan. Akhirnya, saya dan beberapa teman dikirim ke pengungsian Merapi. Singkat cerita, sore itu kita kerja bakti di barak pengungsian yang tidak terawat, sebagai pos medis.

Keadaan tidak menentu sampai isya. Akhirnya kami disuruh kembali ke kantor

Mendirikan tenda peleton dalam kegelapan, selesai jam 2 malam

Mendirikan tenda peleton dalam kegelapan, selesai jam 2 malam

untuk briefing ulang. Das dus des… para petinggi RZ pun turun tangan, mengkondisikan aktitas lembaga. Tapi sampe jam 11 malam kita belum dapat tempat yang fix untuk mendirikan posko. Dengan 1 mobil avanza dan 1 ambulance elf, menyusuri perkampungan sekitar merapi. Gak taulah urusan petinggi, akhirnya kita diperbolehkan mendirikan posko di Girikerto oleh pemerintah setempat.

Mendirikan tenda peleton dalam kegelapan malam dan selesai jam 2 malam. Semua pada kembali ke kantor kecuali 3 orang relawan, salah satunya saya. Karena secara mendadak saya dijadikan koordinator Relawan RZ di Merapi, ya semampu saya jalankan amanah tersebut. Dua kawan saya tidur di ambulance, saya lanjut ngobrol dengan relawan Tagana yang standby di sekitar pengungsian. Ngobrol ngalor ngidul sekaligus memetakan kondisi. Subuh datang, lanjut siang, sore dan malam, dan saya belum tidur.

Beberapa kawan relawan sudah berdatangan, dari berbagai background, baik medis, pendidikan, psikologi dan serabutan (ini golongan saya hehehe…). Sekitar jam 11.30, setelah rapat sebentar, saya baru bisa tidur, sedangkan kawan yang lain standby plus menata posko.

Gak ada 30 menit, saya terbangun mendengar suara klakson mobil dan motor yang berjalan rombongan dan cepat. Beberapa orang teriak “Minggirr….!”, bergegas keluar tenda, disambut hujan abu. Ada relawan swadaya yang membuka gerbang barak. Trus aku tanya, “Adaa apa pak?”. “Evakuasi mas..!!”. Degg…. denyut jantung yang tadinya lari kencang, sekrang malah tambah ngebut. Woww… imajinasi paranoidku melayang-layang, masa baru sehari langsung mendapat cobaan melawan maut. Jangan-jangan bentar lagi ada batu beterbangan kiriman dari merapi menerpa orang di pengungsian. Jangan-jangan lahar menggenangi pengungsian. Waduuhh…langsung perintahkan semua relawan naek ambulance, biar saya aja yang menyetir (padahal gak jago nyetir).

Pengungsi yang dievakuasi ke barak kami.

Pengungsi yang dievakuasi ke barak kami.

Melihat kondisi saya yang panik, ada relawan yang menenangkan. “Bentar dulu pak, kita perjelas dulu”, setelah tanya sana sini, ternyata memang ada evakuasi, tapi dari barak atas menuju ke barak kita. Helehh… alhamdulillah, jadi daerah kita aman. Wis terlanjur deg-degan, tangan gemetaran, mungkin wajah pucat. Siap-siap ngetrek pake ambulance hehehe.. akhirnya disodori minyak caplang agar saya lebih tenang. Tapi tetep gak bisa tidur lagi, tenda peleton kita langsung penuh oleh pengungsi merapi. Temen-temen medis pun beraksi, temen-temen serabutan nyebar masker. Gak tidur lagi sampai pagi😀

Tim RZ dan Medis dari PMI, membantu pengunggsi yang membutuhkan layanan medis. -dini hari-

Tim RZ dan Medis dari PMI, membantu pengunggsi yang membutuhkan layanan medis. -dini hari-

 

Dulu memang pernah dilatih untuk bergerak cepat ketika ada ‘tekanan’ tertentu, tapi ya… saya mungkin mudah panik, logika otak sudah lumpuh waktu seperti itu. Manajemen panik memang perlu, biar bisa berfikir jernih meskipun dalam ‘tekanan’. Semoga bermanfaat.

 

 

Setelah diguyur hujan abu, paginya bersih-bersih ambulance

Setelah diguyur hujan abu, paginya bersih-bersih ambulance

Salah satu yang membuat adem ketika otak dan tubuh lelah, tilawah Kang Sakijo selalu menghibur. Semoga cita-citamu belajar ke Al-Azhar Cairo tercapai. :)

Salah satu yang membuat adem ketika otak dan tubuh lelah, tilawah Kang Sakijo selalu menghibur. Semoga cita-citamu belajar ke Al-Azhar Cairo tercapai.🙂

Adik-adik yang diliburkan sekolahnya, bisa bermain dengan kakak-kakak relawan.

Adik-adik yang diliburkan sekolahnya, bisa bermain dengan kakak-kakak relawan.

Setelah hujan abu, ya hujan air

Setelah hujan abu, ya hujan air

 

 

 

 

3 thoughts on “Manajemen Panik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s