Ketika santri lagi ‘hubbuhu yasqut’

Menghadapi manusia kadang susah-susah mudah. Apalagi manusia yang membantu manusia lain dalam pendidikan. Orang tua yang mendidik anaknya, guru yang mendidik muridnya dan ustadz mendidik santrinya. Apalagi kondisi zaman yang seperti ini jauh lebih kompleks. Pada satu masa hidup manusia adalah masa muda yang secara biologis dan psikologis disebut puber. Itu sudah fitrah, tapi penanganannya harus ‘canggih’ mengikuti perkembangan zaman.

Judul di atas memang sedikit saya ‘steganografikan’ biar tidak terbaca galau, karena judul yang saya maksud adalah “Ketika santri lagi jatuh cinta”. Tentunya bagi yang faham bahasa arab pasti akan tertawa, karena tartibnya gak beneer. Emaanggg koq saya sengaja😛

Dulu pernah memergoki santri yang nulis surat cinta ke pacarnya. Waktu itu memang saya masih sebagai ‘pihak berwajib’ menyelidiki kasus ini (kayak detektif ajah.. deh). Disita berbagai ‘barang bukti’ yang lebih dari cukup untuk dibawa ke ‘pengadilan’. Pada waktu itu memang saya tidak mempunyai pengetahuan tentang tarbiyah aulad yang detail dan psikologi. Intinya saya tidak explisit mendakwa santri tersebut telah ‘berdosa’. Cuma saya kasih nasehat bahwa di dunia ini ada ‘aturan main’ sebagai muslim. Sedikit pasang muka sangar (padahal aslinya udah sangar, kayak Tyson kurang makan dah), dan saya gelandang ke ‘pengadilan’ jam 12 malam, dan agar dia menunggu disana. Dan akupun masuk kamar trus tidurr…. (hahahah… kejam juga). Menjelang subuh, saya bangun dan kembali ke ruang ‘pengadilan’. “Ya udah… kembali ke kamar sana, barang2nya saya sita. Gak perlu surat pernyataan tidak akan mengulang kesalahan. Ingat apa yang saya bilang tadi malam” ucap saya.

Setelah itu saya kembali berfikir, jangan2 santri tersebut malah antipati terhadap nasehat, Na’udzubillah. Lebih dalam lagi, jangan2 nanti saya melakukan hal seperti santri tadi, bahkan lebih parah. Na’udzubillahhhhhhhhhh… jiddan.

Setelah 8 tahun kemudian, saya kembali mendapat iklim yang sama, yaitu pesantren, meskipun ke sana seminggu sekali. Pada satu waktu, salah satu ustadz berbincang dengan yang lain, membahas salah satu santri yang paling aktif di pesantren menulis surat cinta kepada seorang perempuan. Tidak ada bukti surat itu telah dikirim ke gadis pujaannya, cuma barang bukti kertas yang bertuliskan kata-kata/puisi kekaguman. Lumayan panjang tulisan tersebut. Dibaca antar ustadz, dan kemudian pada tertawa. Trus diskusi, salah satu ustadz bilang “Ini bagus, normal, waktunya jatuh cinta. Tapi secara syar’i tidak diperbolehkan mengucapkan cinta selain pada istrinya. Cintanya memang disimpan dihati. Trus tetep juga menjaga pandangan mata”. Untung saja dia aktif di berbagai kegiatan, jadi ada ‘pelampiasan’ dari fikiran yang merah jambu tadi.

Memang ilmu saya masih dangkal masalah hati anak muda, saya sendiri aja bingung dengan hati saya, yang (mungkin) pernah merah jambu air rasa strawberry. heheheh…
apa pendapatmu?? mari kita diskusi, untuk generasi yang lebih baik🙂

 

 

2 thoughts on “Ketika santri lagi ‘hubbuhu yasqut’

  1. yang dikatakan ustadnya sampean itu bener kok (menurut saya sii).. harus ada kegiatan sehingga pikirannya tidak gitu sempat memikirkan “rasa aneh itu” hee… mungkin sudah sering dengar: nafsu itu, kalau tidak disibukkan dengan kebaikan dia akan disibukkan dengan keburukan… kalau si-santri lagi “kambuh”, saya sbg manusia biasa cm bs kasi saran: beri ruang baginya utk berekspresi di orang dan tempat yang aman,hehe.. mungkin sampean bs menjadi “tempat” dan orang itu..🙂, setidaknya, si-santri bs dapat bimbingan kan.. kalo berekpresinya lewat kertas aja.. jadi ada yang kurang.. hee.. Allahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s