Jika robot punya perasaan

Dari pagi sampe malem, ngutak-utek ebook gak karuan. Sambil nongkrong di FB plus, liat berita, melihat catatan2 masa lalu, tak diduga hati ini merasa mejikuhibiniu, alias campur aduk. Berkhayal masa depan, mengingat masa lalu dan mlototin realita sekarang, ‘rasa’ itu tetep ada dan bahkan bertambah.

Saya kira gak apa2 memutilasi hati dan fikiran. Menganalias apa yang terjadi. Mungkin butuh sedikit bantuan ilmu psikologi diracik dengan Tarbiyah wa Ta’lim. Dalam Al-Qur`an pun diperintahkan “wa fii anfusikum afalaa ta’qilun” (dan di dalam diri kalian, apakah tidak kalian fikirkan)-> kalo gak salah seperti itu.

Setelah dianalisa, ternyata tetep mejikuhibuniu. Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata logika, namanya juga perasaan. Berfikir lebih lanjut, bisa gak ya, kalo behavior yang dipunyai manusia ditransfer ke subuah mesin, sebut aja robot. Kalo robot mungkin masih bisa dimasukin rumus-rumus logika, tapi bingung juga kalo diberi rumus perasaan. Human aspect memang sulit dibedah dan ditransfer. Kalo robot punya perasaan mungkin jadinya kayak Eagle Eye, Real Steel, iRobot, Wall-E dan Transformer.

heheheh… peradaban robot masih jauh di mata, tapi dekat di hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s