Aku kalah dengan anak SMP, apalagi dia perempuan

Penghujung tahun 2007, saya dan 2 anak muda ‘diculik’ oleh segerombolan anak mudi (pemuda tapi perempuan). Ternyata kami diikutkan project mandiri membuat film indie. Pemeran utamanya anak perempuan yang masih belajar di SMP di kawasan Kulonprogo. Sepanjang perjalanan (ketika naik mobil), mbak-mbak yang ‘menculik’ kami menceritakan kondisi alam yang dituju sangat terjal, kendraan yang bisa masuk cuma motor, kemudian jalan kaki turun lembah, melewatin air terjun pula, wahhhh.. horor!!!.

Memang benar, kondisi alam di lokasi tidak bisa dilalui dengan motor, harus jalan kaki. Ternyata disana ada 3 anak muda yang sudah menunggu untuk jalan kaki. Jumlah orang sekitar 11 orang, membawa peralatan shooting (padahal cuma tripod, kamera handycam, kabel secukupny), perbekalan makanan (nah ini yang berat). setelah beberapa menit, ada yang bilang “Kita akan melewati air terjun”, weleh… tibake (ternyata) cuma pancuran air pegunungan😐. Dasar wong kutho… utun. (Dasar orang kota, utun ->bahas indonesianya apa ya???)

Jalan kaki menuruni lembah, sekitar 30 menit, sampailah di rumah pemeran utama. Memang pemeran utama adalah anak orang yang kurang mampu, film ini mengisahkan kehidupan sehari-hari dia yang juga ditinggal kedua orang tuanya kerja di Jakarta. Sedangkan dia bersama nenek dan sepupunya. Namanya Dinanti.

Setelah memperkenalkan diri, langsung minta izin untuk ‘ke belakang’. “Tempat mandinya di belakang rumah, mas” kata sang nenek. Aku cari-cari koq gak ada kamar mandi, yang ada hanya tong bekas aspal berisi air, trus kembali ke rumah, “Yang dimana mbah??”. “Itu yang ada tong bekas aspal isi air”…. “Apaaaaaaaaaaaaa….. koq tempatnya terbuka” dalam hatiku berkata. Endingya senyum nyengir, nunggu malam tiba. heheheh… Sekeluarga memang mandi ditempat itu, kalo gak ada air, baru mandi di sendang pemandian umum yang agak jauh dari rumah. Indonesia memang bhineka tunggal ika😐

Setelah maghrib dan makan malam, saya dan 2 teman diajak sang sepupu untuk sholat isya’ di masjid atas. “Oke… siap” jawab saya. Keluar rumah bawa senter… dan weeeeengg…. dalam hitungan menit, sang sepupu sudah menghilang dikegelapan malam dan semak belukar. Kami bertiga terpontang panting mengejar di ‘sirkuit’ lembah. Ketika sampai dimasjid, langsung tepar di rerumputan halaman masjid dilihatin masyarakat sekitar. Padahal 1 orang atlit taekwondo, 1 temen lagi bodi gempal, dan saya atlit pembalap sepeda jalanan😛, semuanya teparrrrr…. gak kuat ngejar panduan sang sepupu tadi.

Sebenarnya masih banyak cerita heboh di malam itu, tapi mo saya singkat ke cerita esok harinya.

Pagi-pagi buta, tim harus siap menjelajah hutan dan kampung lintas pegunungan. Diannti sudah minta cepet jalan ke sekolah, karena takut telat. Menit demi menit tim yang mengikuti Dinanti napak tilas kesekolahnya dah pada kleleran, termasuk saya, yang aslinya sebagai angkut-angkut logistik berubah peran sebagai kameramen hedewwhh… jadi manusia Multiple Purpose alias serba guna. Beberapa kali tim minta istirahat, padahal waktu masuk kelas sudah dekat. Akhirnya diputuskan Dinanti dan tim shooting yang jalan duluan. Setelah jalan sekitar satu jam dengan jarak 2 km naik turun gunung, akhirnya sampai juga ke sekolah…. tapi Dinanti tetep senyum serasa gak capek. Kami pun nge-shoot di kelas, tentunya setelah mendapat izin guru.

Dan itu semua kami lakukan di bulan puasa, and jazakumullahh… tmn2 yang ‘menculik’ saya dan tmn2 yang senasib ‘diculik’, kita bertemu dalam sillaturrahim Relawan Rumah Zakat cab Yogyakarta. Dan semoga Allah melindungi Dinanti dan Keluarganya.

One thought on “Aku kalah dengan anak SMP, apalagi dia perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s