Ada air mata, keringat, darah dan cinta di makanan ini

Melihat dari judul tulisan ini memang agak lebay, tapi memang itu adanya. Singkat cerita, saya ikut istirahat di sebuah guest house di sebuah lembaga pendidikan. Lumayan nyaman, luas, setiap kamar ada AC dan kamar mandi. Di ruang utama ada sofa berjejer menghadap Smart TV.

Setelah satu jam tertidur di sofa, terdengar ketukan pintu, tapi koq dari belakang Guest House. Ehhh… ternyata ada mbak-mbak yang kasih makanan berupa kue dan buah-buahan. Mereka dari tadi stand by di dapur siap melayani siapa saja yang dipersilahkan istirahat di guest house tersebut. Lirik sana sini disekitar dapur, wahh…. lengkap juga fasilitasnya, dan tak lupa ada semangkuk es buah yang siap santap.

makanan bertabur rasa keikhlasan

Dari awal kondisi Guest House yang ‘wah’ kemudian dilayani dan disajikan makanan yang ‘wah’ juga, tetapi hati kecil sedikit melankolis, gak nyaman. Karena sedikit banyak tahu tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut. Sampai dengan tersajikannya makanan tersebut, banyak orang yang terlibat. Dari para pendiri lembaga pendidikan, guru, masyarakat dan murid-murid yang dengan IKHLAS berjuang dengan pengorbanan harta, benda, keluarga, dan nyawa.

Dimana awal-awal berdirinya lembaga pendidikan, keluarga pendiri dan guru-guru menyedekahkan harta termasuk kalung emas terakhir untuk dijual agar proses belajar-mengajar murid bisa lancar. Tanah pun diwakafkan. Ketika jaman Belanda, masyarakat sekitar melindungi lembaga pendidikan tersebut, apalagi jaman PKI, yang mana pimpinan lembaga pendidikan dikejar-kejar untuk dibunuh, masyarakat sekitar pun pasang badan agar lembaga pendidikan tetap berjalan. Pada zaman kemerdekaanpun para guru tetap berkorban siang malam agar murid bisa belajar. Bahkan tidak sedikit guru yang wafat ketika mendapat amanah pendidikan.

Mengetahui hal tersebut, gimana bisa makan enak, tidur nyenyak di Guest House, padahal saya tidak ada kontribusi apa-apa ke lembaga pendidikan tersebut. Hedewwhh… tapi manusia tetap manusia, ada kalanya satu dua orang dari beberapa generasi lembaga pendidikan yang ‘kurang sehat’, sehingga ada sifat ‘minta dihargai’ dihatinya. Semoga Allah menghujamkan hidayah kepada kita semua, sehingga ikhlas lillahi ta’ala menjadi ruh setiap aktifitas.

Ternyata mbak-mbak nya tadi adalah para guru, yang sore itu siap-siap ikut kuliah. Jadi Guru di pagi hari, jadi mahasiswa di sore hari dan jadi ‘pelayan’ sepanjang hari. Dan lebih dari itu, seminggu kemudian, baru tahu seharusnya rombongan yang saya ikuti, istirahat di Guest House ‘kelas wahid’ karena ada eselon satu, sedangkan kami istirahat di ‘kelas dua’. Jadi kaget, tentu lebih ‘wah’. Dan tambah gak nyaman kalo saya ikut di kelas wahid.

Mungkin dari kalian tau, lembaga pendidikan mana itu?
Semoga Allah selalu meridloi aktifitas pendahulu dan kita semua. Amiin ya Rabb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s