Jam 10, tidak kurang dan tidak lebih

Anak seorang petani sederahana di sebuah kampung kecil di daerah Jawa Timur pada tahun 1973. Sebut saja anak itu bernama Karim. Karim yang tidak suka pelajaran Bahasa Inggris waktu di Pesantren, karena memang dia tidak menguasai Bahasa Inggris. Tapi Allah SWT mentakdirkan hal lain, dia malah mendapat amanah untuk mengajar bahasa Inggris di pesantren dulu Karim belajar. Berbagai usaha dia lakukan agar bisa menjalankan amanah mengajar tersebut dengan sebaik-baiknya.

Pada suatu hari Pimpinan Pesantren mengumumkan bahwa salah satu guru teladan bernama Abdullah, terpilih mendapat beasiswa keluar negeri, tepatnya ke negara Malaysia. Tentu saja hal tersebut menjadi kabar gembira bagi siswa dan para guru, karena sekolah tersebut akan memiliki lebih banyak tenaga pengajar yang notabene lulusan luar negeri.

Selang beberapa minggu kemudian, Pimpinan Sekolah memanggil Karim ke kantor. Setelah berbincang kesana kemari, Pimpinan Pesantren mengatakan kepada Karim bahwa ada beasiswa lagi keluar negeri, dan Karim terpilih mendapatkan beasiswa tersebut, tentunya setelah bermusyawarah dengan para guru senior.

Inggris negaranya dan Ratu Elizabeth yang memberikan beasiswa tersebut. Terdapat 10 orang dari Indonesia, 9 orang diantaranya dari kalangan pengajar sekolah formal dan 1 orang dari pengajar sekolah pesantren. Program beasiswa tersebut disebar ke berbagai Negara di seluruh dunia. Karim yang Bahasa Inggrisnya masih tidak optimal tetap akan maju untuk belajar di Inggris, tepatnya di kota Manchester dengan program studi Adult Education selama sekitar 10 bulan. Merupakan kesempatan yang luarbiasa yang tidak bisa didapat oleh orang lain meskipun kaya raya di kampungnya. Sebenarnya yang lebih berhak untuk mendapatkan bebasiswa ke Inggris adalah guru teladan Abdullah, tetapi karena sudah diajukan mendapat beasiswa ke Malaysia, maka pesantren memilih guru yang lain.

Singkat cerita, Karim sudah belajar beberapa bulan di Inggris. Dan pada suatu hari di kampusnya Karim bermaksud untuk mengadakan janji konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Deal! hari rabu jam 10 pagi di rumah sang dosen.

Ting tong, bel rumah dosen pun berbunyi dan tak lama kemudian pintu terbuka dan Karim berdiri didepan pintu rumah dosen. Pada waktu itu jam menunjukkan pukul 09.50, sengaja Karim datang lebih awal agar mengurangi image bahwa orang Indonesia ber’madzhab’ jam karet. Sang dosen mempersilahkan masuk dan duduk kepada Karim. Kemudian dosennya meneruskan aktifitas sebelumnya, yaitu baca Koran di ruang tamu. Otomatis dia mendiamkan Karim yang duduk

dihadapannya. Sunyi senyap tak ada percakapan sedikitpun antara kedua orang tersebut. Klik… bunyi detak jam menunjukkan pukul 10.00, dan….

“Apa yang bisa saya bantu, Karim?” kata dosen

Dan acara konsultasi akademik pun berlangsung. Pembelajaran yang bisa didapat oleh seorang murid dari gurunya adalah tepat waktu itu jam 10.00 tidak kurang dan tidak lebih. Allahu a’lam.

 

*Kisah ini sedikit diubah dari kisah yang asli, agar lebih terasa gurih🙂

One thought on “Jam 10, tidak kurang dan tidak lebih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s