Nderek Kyai

“Nderek Kyai”, istilah yang mungkin tidak semua orang mengerti artinya. Berasal dari bahasa jawa, artinya “Ikut Kyai”. Dari kultur pesantren klasik jawa, seorang santri akan sami’na wa atho’na segala apa yang diperintahkan. Akan menuruti semua perintah kyai, santri tidak akan membantah.

Pada dasarnya bukan masalah ikut atau tidaknya, tapi ikut dalam rangka menimba ilmu. Ilmu tidak hanya didapat ketika ada kelas atau majlis. Santri akan banyak sekali mendapat ilmu ketika bersama kyai, ketika makan, bersih-bersih pesantren, mengurusi air, macul, sampe angon sapi bahkan ketika menghadapi ‘konflik’ dengan masyarakat sekitar pesantren.

Saya pribadi belum pernah melakukan aktifitas ‘nderek kyai’. Cuma ketika berinteraksi dengan kyai atau ustadz senior, saya harus pasang panca indera untuk menyerap berbagai ilmu dari beliau-beliau.

Tapi juga perlu diingat, setiap perintah dan aktifitas kyai harus tetap difilter dengan Al-Qur`an dan Hadits. Fakta berkata, ngakunya kyai/ustadz tapi pake jimat, tapi punya otak liberal, tapi ‘bakar’ kemenyan, tapi dan tapi…

Senada dengan ‘nderek kyai’, Bu Inggriani Liem (Inge) -salah satu dosen senior STEI ITB- berpandangan bahwa ketika murid berguru, maka dia harus hidup bersama. Murid harus belajar bagaimana guru makan, ngobrol, melakukan penelitian, mengajar bahkan bagaimana guru marah. Saya kira, pandangan beliu terpengaruhi dari ‘wisdom‘ China yang melegenda.

Allahu A’lam :)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s